Pentingnya Konvergensi Teknologi Informasi dan Telekomunikasi Dewasa Ini

Uncategorized 2007/10/12 15:30
 Pendahuluan

Jika dibandingkan dengan masa lalu, tentu kita akan memilih zaman sekarang. Karena kurangnya teknologi di masa lalu, membuat pengetahuan kita akan teknologi pun juga kurang, apalagi pengetahuan tentang konvergensi teknologi informasi dan telekomunikasi. Dengan kurangnya teknologi di masa lalu, kita pasti dapat membayangkan bagaimana sulitnya berkomunikasi jarak jauh, terlebih lagi berkomunikasi antarnegara, bahkan antarbenua, dan sulitnya mendapatkan informasi-informasi penting pada waktu itu.

Beruntunglah kita yang hidup di zaman sekarang. Dengan semakin majunya teknologi informasi dan telekomunikasi, kita tidak mendapatkan kesulitan lagi dalam berkomunikasi jarak jauh dan dalam mendapatkan informasi-informasi penting yang kita butuhkan setiap harinya.


Konvergensi Teknologi Informasi dan Telekomunikasi

Pada zaman sekarang ini, kita dihadapkan pada kenyataan kalau kehidupan ini dipenuhi perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi yang sangat pesat. Di seluruh dunia terutama di negara-negara maju, antara teknologi informasi dan telekomunikasi sydah terjadi konvergensi.

Konvergensi adalah suatu (proses) penggabungan personal computing, telekomunikasi (telecommunications), dan televisi (televisions) kedalam suatu program teknologi. Contohnya, kita dapat menonton televisi, menyusun surat elektronik (by e-mail), dan mengirim pesan dalam bentuk teks dengan menggunakan telepon selluler kita. Jika kita mempunyai telepon selluler yang multi-fungsi seperti itu ataupun PDA, kita tidak perlu menggunakan komputer atau kita tidak lagi memerlukan saluran telepon (biasa/regular), mesin fax, dan sebagainya.

Pada masa sekarang ini, kita dapat merekam suara kita, mencari kamus, melakukan pengambilan gambar film, mencari lokasi yang kita inginkan dengan menggunakan telepon selluler kita ataupun dengan menggunakan alat-alat digital lainnya. Tipe/jenis dari sistem ini disebut Konvergensi.

Kalangan industri sekarang tidak lagi membahas suara sebagai sentra utama teknologi jaringan mereka, tetapi memacu perkembangan jaringan nirkabel ke tahapan yang lebih maju dengan menjadikan pertukaran arus informasi paket data sebagai sentra aktivitas. Memang, kalau melihat perkembangan arus data nirkabel menggunakan infrastruktur ponsel, kawasan Asia menduduki peringkat utama dalam penggunaan mobile data.

Kebutuhan kita akan akses telepon nirkabel memang menjadi tidak terbatas sama sekali. Kehadiran teknologi 3G, Super 3G, 4G, WiMAX, dan sejenisnya akan mengubah cara kita menggunakan dan berpikir tentang telepon, yang kemudian akan memacu konvergensi di kalangan industri telekomunikasi nirkabel dengan memasukkan sebanyak dan sebisa mungkin barbagai fitur perangkat keras dan perangkat lunak ke dalam telepon selluler.

Ada berbagai macam telepon selluler yang memasang aplikasi peer-to-peer Skype, memungkinkan percakapan digital jarak jauh menjadi lebih murah, juga ada telepon selluler yang menghidupkan kembali walkman pada ponsel-ponsel terbarunya, dan ada juga telepon selluler memasang aplikasi iTunes pada telepon selluler terbarunya yang memungkinkan pengguna telepon selluler men-download musik-musik digital kapan saja.

Memang sekarang ini, teknologi 3G digemari oleh banyak orang. Teknologi 3G mengubah pembicaraan telepon yang selama ini dikenal dengan hanya mendengar, berubah menjadi mendengar dan melihat. Dengan tidak hanya menggelar teknologi infrastruktur baru seperti WCDMA saja, para produsen perangkat telepon selluler didesak mengonvergensi berbagai teknologi yang selama ini dikenal penggunaannya pada teknologi informasi. Skype, Yahoo Messenger, e-mail, pengolah kata Word, dan sejenisnya akan tersedia pada berbagai ponsel. Teknologi 3G sekarang ini bukan lagi telepon untuk berbicara dan bukan lagi hanya perangkat telekomunikasi yang kita kenal sekarang ini.

Berbagai gadget masa depan yang merupakan konvergensi berbagai fitur teknologi informasi dan telekomunikasi akan menjadi sebuah asisten multimedia seseorang dengan lingkup yang sangat besar, sejauh kita bisa mengadaptasinya untuk memanfaatkan semaksimal mungkin. Kita akan mengenal sebuah generasi baru yang disebut sebagai generasi-m (mobile), yang sangat mudah beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Perilaku generasi-m ini sangat radikal terhadap kemajuan teknologi telepon selluler.


Keuntungan Konvergensi Teknologi Informasi dan Telekomunikasi Bagi Masyarakat

Ada banyak keuntungan dari konvergensi teknologi informasi dan telekomunikasi. Keuntungan yang pertama adalah mudah dalam menggunakannya, dan kita dapat menemukan segala sesuatu informasi yang kita inginkan dalam waktu yang singkat melalui alat-alat digital kita. Keuntungan yang lainnya adalah membawa dunia pada suatu tempat dan tipe/jenis teknologi ini lebih bermanfaat bagi para pengguna, dalam hal ini masyarakat. Seperti yang sudah disebutkan tadi, kita dapat menonton televisi, menyusun surat elektronik (by e-mail), dan mengirim pesan berupa teks dengan menggunakan telepon selluler kita. Kita juga dapat merekam suara kita, mencari kamus, melakukan pengambilan gambar film, mencari lokasi yang kita inginkan dengan menggunakan telepon selluler kita ataupun dengan menggunakan alat-alat/perangkat-perangkat digital lainnya, tanpa menggunakan komputer, saluran telepon (biasa/regular), mesin fax secara terpisah, dan sebagainya.

Hal ini dapat menghemat listrik, tenaga waktu, dan juga biaya, dengan sedikit kerugian yang mungkin akan ditimbulkan. Keuntungan yang lainnya adalah sistem ini sama di seluruh dunia, artinya seperti yang kita ketahui, contohnya Hotmail Messenger. Kita hanya men-download dan menggunakannya. Di seluruh dunia, kita dapat menggunakan msn jika ada koneksi/sambungan internet. Ada beberapa jaringan televisi, kita dapat menontonnya melalui sistem yang sama.

Sebagai contoh, ada tiga pelayanan telekomunikasi di Korea, yaitu SK, LG, dan KTF. Ketiga-tiganya memiliki sistem yang berbeda-beda. Beberapa orang menggunakan 002+ nomor telepon yang bersangkutan untuk mengirim pesan berupa teks keluar negeri di telepon sellulernya, dan beberapa orang lainnya menggunakan 001+ nomor telepon yang bersangkutan untuk mengirim pesan berupa teks keluar negeri di telepon sellulernya, dan seterusnya. Sistem ini akan berubah dan akan sama jika pelayanan akan konvergensi teknologi informasi dan telekomunikasi tersebut ada.


Penutup

Memang, perpaduan teknologi serta inovasi yang dihasilkan dari teknologi informasi dan telekomunikasi, mempengaruhi pola pandang manajemen pengaturan atau regulasi yang telah ada, karena konvergensi teknologi menghasilkan berbagai jenis layanan baru yang belum ada sebelumnya. Kompetisi dalam mengembangkan produk teknologi informasi dan telekomunikasi sebaiknya diserahkan kepada mekanisme pasar nasional dan global. Pemerintah hanya memfasilitasi agar industri asing yang masuk turut mengembangkan industri lokal melalui pertukaran ilmu pengetahuan.

Dengan semakin meluasnya teknologi informasi dan telekomunikasi, diharapkan dapat semakin bertambahnya wawasan/pengetahuan yang didapat oleh masyarakat mengenai teknologi informasi dan telekomunikasi, dan masyarakat pun dapat menggunakannya/memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Jadi, masyarakat kita pun tidak tertinggal dengan bangsa-bangsa lainnya, dan tidak mengalami gagap teknologi dan mampu mengaplikasikannya dengan sebaik mungkin.

top
  1. Lisa 2007/10/12 15:38 PermalinkModify/Delete Reply

    I'm sorry, I'm writing this in Indonesian language because I want to send this to writing competition in my country. By the way thanx Chet for the informations.

  2. 피터 2007/10/14 12:33 PermalinkModify/Delete Reply

    Even though I can't understand Indonesian language,
    I hope it'll be selected as a good essay.

    Best of luck Lisa.

  3. Indonesia Type Approval 2007/11/05 02:19 PermalinkModify/Delete Reply

    Terima Kasih informasinya......

  4. frans 2007/12/06 07:39 PermalinkModify/Delete Reply

    Salute!

    Boleh tanya?

    "Kompetisi dalam mengembangkan produk teknologi informasi dan telekomunikasi sebaiknya diserahkan kepada mekanisme pasar nasional dan global. Pemerintah hanya memfasilitasi agar industri asing yang masuk turut mengembangkan industri lokal melalui pertukaran ilmu pengetahuan. "

    "Dengan semakin meluasnya teknologi informasi dan telekomunikasi, diharapkan dapat semakin bertambahnya wawasan/pengetahuan yang didapat oleh masyarakat mengenai teknologi informasi dan telekomunikasi, dan masyarakat pun dapat menggunakannya/memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Jadi, masyarakat kita pun tidak tertinggal dengan bangsa-bangsa lainnya, dan tidak mengalami gagap teknologi dan mampu mengaplikasikannya dengan sebaik mungkin. "


    >>1. Untuk di Indonesia, apakah "sepenuhnya dengan menyerahkan kepada mekanisme pasar nasional " akan dapat memfasilitasi bertambahnya wawasan/pengetahuan yang didapat oleh masyarakat mengenai teknologi informasi dan telekomunikasi sehingga" masyarakat kita pun tidak tertinggal dengan bangsa-bangsa lainnya, dan tidak mengalami gagap teknologi dan mampu mengaplikasikannya dengan sebaik mungkin"

    >>2. Bagaimana seharusnya yang dilakukan oleh pemerintah dalam "memfasilitasi agar industri asing yang masuk turut mengembangkan industri lokal melalui pertukaran ilmu pengetahuan." ? Karena pada kenyataannya, industri asing yang datang adalah lebih atas ketertarikan bisnis (profit) daripada misi 'memelekkan masyarakat' semata terhadap teknologi dan sains.

    >> 3. Dalam kasus: "perpaduan teknologi serta inovasi yang dihasilkan dari teknologi informasi dan telekomunikasi, mempengaruhi pola pandang manajemen pengaturan atau regulasi yang telah ada, karena konvergensi teknologi menghasilkan berbagai jenis layanan baru yang belum ada sebelumnya." Apakah ini dapat juga diartikan bahwa setiap regulasi adalah sebagai tindakan 'reaksi' dari peran regulator yang 'lamban' dan 'pasif' terhadap pasar, sehingga seringkali terlambat 1 langkah untuk membuat inisiatif supaya pasar dan peluangnya menjadi kondusif. Mengambil kasus perusahaan jasa layanan telekomunikasi di Surabaya beberapa tahun lalu, yang menyediakan layanan telekomunikasi murah melalui VoIp, untuk kemudian oleh pemerintah di 'segel'. Padahal pada saat itu, regulasi mengenai VoIp belum ada. Konyolnya, pemerintah menahan laju 'inisitif' tersebut, unuk kemudian 2 tahun setelah itu, pemerintah melalui telkom menyediakan fasilitas dengan VoIp. Bukankah dari contoh ini, dapat diartikan bahwa pemerintah hanya campur tangan bila 'menguntungkan' bagi 'kaki tangan' usaha- usaha BUMN-nya?

    >> 4. Melihat kasus praktek 'oligopoli' yang dituduhkan pemerintah melalui KPPU terhadap Temasek, apakah sepenuhnya berdasarkan atas azas liberalisasi pasar atau perspektif politik ekonomi ?

  5. Lisa 2007/12/21 13:04 PermalinkModify/Delete Reply

    A ur Q, frans...

    Sorry nih baru aku jawab coz udah lama juga aku ga buka internet. That's good questions and banyak lagi, aku sampe pusing nih tapi aku coba jawab ya, meskipun aku sendiri ga agak gaptek n' ga ngerti banget tentang IT.

    1. Menurut aku, dengan menyerahkan kepada mekanisme pasar nasional memang tidak sepenuhnya akan dapat memfasilitasi bertambahnya wawasan/pengetahuan yang didapat oleh masyarakat mengenai teknologi informasi dan telekomunikasi, tapi setidaknya masyarakat semakin perduli pada perkembangan teknologi informasi di negara kita (Indonesia). Mereka (masyarakat), aku pun sebagai masyarakat Indonesia juga akan terus mencari-cari informasi mengenai teknologi informasi & telekomunikasi yang tentu saja bisa menambah wawasan kita mengenai hal ini. Contohnya, industri internet dari satu sisi mengenai teknologi informasi & di sisi lain juga ada telekomunikasinya sehingga sangat jelas adanya titik konvergensi antara kedua bidang ini.

    2. Menurut aku, yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah dalam "memfasilitasi negara industri asing yang masukturut mengembangkan industri lokal melalui pertukaran ilmu pengetahuan" yaitu dengan mendatangkan para ahli dari Luar Negeri untuk turut memberikan keahlian/keterampilan yang dimiliki kepada SDM 2x (Sumber Daya Manusia 2x) kita (Indonesia) agar SDM 2x kita pun (Indonesia) yang bekerja sama dengan industri mereka dapat bertambah wawasannya & bertambah pula keahlian/keterampilannya. Learn from the best. Memang, tindakan ini nggak semudah seperti yang dibicarakan. Makanya kenyataannya, industri asing yang datang adalah lebih atas ketertarikan bisnis (profit) ya... mereka kan juga pintar bisnis. Pastinya.... mereka menginginkan yang lebih. Mingkin harus ada peraturan tegas yang mengikat kedua belah pihak ya... something like agreement??
    O'ya kedua menteri kita yang membidangi sektor telematika-Departemen Perhubungan dan Telekomunikasi (Dephubtel) kan memiliki latar belakang bisnis ya? Semoga saja mereka bisa mengembangkan bisnis di sektor IT. Setidaknya, masyarakat Indonesia sekarang kan sudah banyak yang nggak gaptek (gagap teknologi) 2x banget (kalau pun ada, mungkin sedikit jumlahnya). Ini mungkin juga karena industri asing banyak mengeluarkan produk TI yang baru yang semakin banyak kecanggihannya, semakin banyak kelebihannya, kita juga banyak belajar dari hal ini.

    3. O'ya? Aku belum tahu nih beritanya mengenai kasus perusahaan jasa layanan telekomunikasi di Surabaya. Tapi kalau menurut aku, kita kan tahu bahwa sudah ada regulasi tentang telekomunikasi di Indonesia, salah satunya UU No.39/1999 ya... (kalau nggak salah). Di dalam Undang-Undang itu, ternyata masih ada hal-hal yang perlu direvisi. Kan suatu waktu ada hal-hal mengenai teknologi informasi & telekomunikasi di Indonesia mengalami perubahan, jadi regulasi yang ada pun juga perlu ada sedikit penambahan 2x/perubahan 2x. Setiap tahun pun di dunia mengalami kemajuan-kemajuan dalam teknologi informasi & telekomunikasi. Ini tidak dapat diartikan bahwa setiap regulasi adalah setiap tindakan 'reaksi' dari peran regulator yang 'lamban' & 'pasif' terhadap pasar. Karena regulasi itu tidak hanya mengatur mengenai peran regulator, tetapi juga mengatur hal-hal mengenai teknologi informasi & telekomunikasi itu sendiri. Dari contoh kasus tersebut, namanya juga pemerintah, maunya kan untung terus.

    4. Menurut aku, perspektif politik ekonomi. Kalau menurut kamu?

  6. frans 2007/12/28 07:27 PermalinkModify/Delete Reply

    Ya itulah bu....
    Sepanjang perspektif politik ekonomi yang menjadi acuan dalam bidang bisnis, di manapun (saya rasa), maka liberalisasi pasar akan sangat sangat tergantung kepada regulasi yang digulirkan oleh pemerintah negara tersebut (tergantung kepada kekuatan posisi tawar ekonomi negaranya). Sekalipun forum WTO menjadi salah satu wacana dalam perdagangan global, namun semua itu tidak terlepas dari kepentingan 'ketahanan' ekonomi suatu negara. (kaya'nya kalo di Indonesia lebih kepada 'ketahanan' muka untuk ngak malu dari para pelaku yang membocengi institusi bisnis negara (=BUMN) karena mereka di-'lindungi' secara ekonomi). Mungkin pendapat saya kurang obyektif, namun bila kita menyimak beberapa perusahaan BUMN yang selama ini menikmati 'iklim' di-monopoli-kan, sementara pertanggungjawabannya secara keuangan dalam bentuk profit lebih diarahkan kepada 'ketahanan negara', maka adalah sumir peran dan tanggungjawab mereka sebagai pilar dari ketahanan ekonomi negara. Apalagi keterbukaan ruang informasi terhadap publik belum benar- benar dilaksanakan. Misal: Apakah bila satu BUMN dalam laporan keuangannya surplus Rp. 10 Milyar, apakah itu dikatakan untung? Apabila ya, apakah itu sudah maksimal sebagai suatu usaha bisnis? (Karena komisarisnya rakyat, tidak seperti seperti perusahaan swasta, maka rakyat hanya menggantungkan pada perwakilannya. Kalo ditanya, siapa perwakilannya...maka kitapun tidak tahu?)

    He he he...Saya teringat ketika Robby Johan (ex Direcktur Bank Bali) masuk Garuda. Sebelumnya, Garuda mengalami kerugian yang terus meradang. Tetapi ketika dia masuk, maka laporan keuangan tahun berikutnya dikatakan untung. Padahal pemasukan sebagai surplus itu hanyalah datang dari penjualan salah satu anak perusahaan Garuda. Konyolnya, penyebutan sebagai 'keuntungan' tidak menjadi satu tanda tanya pemerintah. Kasus lain, penjualan tanker minyak yang dipesan beberapa saat sebelumnya di Korea. Ketika tanker tersebut selesai dibuat, tanker tersebut dijual. Laksamana Sukardi (ex menteri BUMN), mengatakan "Untung!" karena harga yang ditawar oleh pembeli asing adalah lebih tingi dari harga yang pemerintah pesan beberapa waktu lalu. Kasus Indosat, dan lainnya mirip , bukan?

    Gimana kalau kita mendesak agar kepesertaan publik untuk mendapatkan akses informasi me-liberalisasi-kan pemerintah: "Good Governance"? Saya rasa dampaknya bagai 'tsunami'!, terutama (maaf) bagi mereka mereka yang tahunya hanya 'masuk kantor' sekedar 'setor muka' dan terima gaji.

    *** Dosen itu di kampus bu, kalau di angkutan: penumpang. Sedang kalo di 'maya' cuman browscholicker.


Write a comment


Korean Leaders Meet At Historic Summit

Uncategorized 2007/10/02 14:20

By BURT HERMAN, Associated Press Writer

SEOUL, South Korea - North Korean leader Kim Jong Il showed scant enthusiasm for the visiting South Korean president on Tuesday, while orchestrated crowds of thousands cheered the start of the second summit between the divided Koreas since World War II.

The reception in Pyongyang contrasted with the first North-South summit in 2000, when Kim greeted then-South Korean President Kim Dae-jung with smiles and clasped both his hands tightly in an emotional moment that softened the North Korean strongman's image to South Koreans and the world.

This time, Kim appeared reserved and unemotional, walking slowly and occasionally clapping lightly to encourage the crowd at the outdoor welcome ceremony waving red and pink paper flowers. The North's official Korean Central News Agency reported that Kim was greeted by cheers from citizens "rocking the earth and sky."

South Korean President Roh Moo-hyun appeared to revel in the moment, waving and smiling broadly before reviewing a goose-stepping North Korean military honor guard wielding rifles with bayonets — part of its million-strong forces that face the South across the world's most heavily armed frontier.

The 12-minute encounter was the only known meeting Tuesday between the leaders, who were to begin formal talks Wednesday. According to South Korean pool reports, they did not exchange any substantive words beyond simply telling each other, "I'm glad to meet you."

Roh has said his goal at the summit is fostering peace and prosperity between the North and South, which remain technically at war since a 1953 cease-fire halted the Korean War despite seven years of warming ties since their first summit.

But Roh has not given any specifics about what he will propose or seeks in return, prompting criticism from conservatives at home that the summit is an ego trip for Roh, seeking to establish a legacy for his unpopular administration that ends in February.

Both Roh and Kim also hope to keep the surging conservatives from winning South Korea's December presidential election, where they hold a commanding lead in opinion polls. The main opposition Grand National Party is more skeptical of relations with the North, insisting aid be conditional on progress on nuclear disarmament along with reforms to the country's centralized economy.

Roh's eager embrace of the North has also caused friction with Seoul's ally Washington, which believes relations between the Koreas should only follow progress in Pyongyang's nuclear disarmament.

Earlier during the 125-mile journey by road from Seoul, Roh stepped out of his vehicle to walk across the border that divides the Koreas in the center of the Demilitarized Zone — the first time any Korean leader has crossed the land border. In the first summit between the Koreas in 2000, the South's Kim flew to Pyongyang.

"This line is a wall that has divided the nation for a half-century. Our people have suffered from too many hardships and development has been held up due to this wall," Roh said before crossing. "I will make efforts to make my walk across the border an occasion to remove the forbidden wall and move toward peace and prosperity."

Upon entering Pyongyang, Roh switched to an open-top car and was joined by the North's No. 2 leader, Kim Yong Nam. Both rode for some 20 minutes through the North's showcase capital, waving to hundreds of thousands of residents who chanted "Reunification of the Fatherland!" and "Welcome!"

This week's summit, which runs through Thursday, comes a year after the North conducted its first test detonation of a nuclear bomb, catalyzing world opposition to the regime. However, the explosion soon led to a reversal of Washington's hard-line policy on the North that has lately seen relations improve between the longtime foes.

In July, North Korea shut down its sole operating nuclear reactor that produced material for bombs, and the country has tentatively agreed to disable its atomic facilities by year-end in a way that they cannot be easily restarted.

Before leaving the South Korean capital, Roh acknowledged that the two Koreas alone could not totally resolve the nuclear standoff or bring peace to the peninsula.

North Korea is involved in international talks, which include the U.S. and other regional powers, on its nuclear weapons program. A peace settlement to the Korean War would require the participation of the U.S. and China, both of which also fought in that conflict.

"Even if we do not reach an agreement in many areas, it would still be a meaningful achievement to narrow the gap in understanding and to enhance confidence in each other," Roh said of the meeting with Kim.

Washington was skeptical the summit would lead to tangible progress.

"I certainly am not looking for those inter-Korean discussions to change the basic facts on the ground," U.S. State Department spokesman Tom Casey said Monday.

___

Associated Press writers Kwang-tae Kim and Jae-soon Chang contributed to this report.

top

Write a comment


Myanmar junta chief meets with UN envoy

Uncategorized 2007/10/02 13:55

YANGON, Myanmar - After days of delays, Myanmar's reclusive junta leader, Senior Gen. Than Shwe, finally granted an audience Tuesday to a U.N. envoy hoping to broker an end to Myanmar's crackdown on pro-democracy protesters.

The government later permitted a second encounter between the diplomat and Aung San Suu Kyi, the detained Nobel laureate who has come to symbolize the yearning for democracy in Myanmar.

Ibrahim Gambari, the U.N.'s special envoy, met Than Shwe in the junta's remote new capital, Naypyitaw, a U.N. statement said. It said he then flew to Yangon and talked to Suu Kyi.

The meeting with Than Shwe was expected but the one with Suu Kyi came as a surprise, raising hopes that Gambari's shuttle diplomacy was making progress.

The U.N. has said that Gambari's mission is to persuade the generals — who have provoked worldwide revulsion with last month's crackdown — to take the people's demand for democracy seriously.

Dissident groups say up to 200 protesters were slain and 6,000 detained in the junta's crackdown, compared to the regime's report of 10 deaths.

While the envoy tried to broker peace, the junta scaled back the curfew from seven hours to six and security forces lightened their presence in Yangon, the country's main city.

Kept off the streets, many residents launched a new form of protest Monday evening by switching off their lights and turning off television sets from 8 p.m.- 8:15 p.m. during the nightly government newscast.

It was unclear how many homes heeded calls for what activists are calling a "silent protest" against the junta.

The U.N. statement said Gambari's meeting with Than Shwe and his deputies "to discuss the current situation in Myanmar" lasted more than an hour. It said Gambari also met Suu Kyi for the second time during his four-day mission but gave no other details.

Gambari "has now left Myanmar and will return to New York to report to the Secretary-General (Ban Ki-moon) on the outcome of his mission," the statement said.

Foreign governments have been urging the junta to free the detainees, who include thousands of Buddhist monks who led last month's protests. In addition, freeing Suu Kyi from her long years of house arrest has been one of the main goals of all U.N. envoys and Myanmar's international critics.

The meeting between Gambari and Than Shwe also included the junta No. 2 leader Deputy Senior Gen. Maung Aye, as well as two other top generals in the ruling coterie.

In New York on Monday, Myanmar Foreign Minister Nyan Win denounced foreign interference, which he blamed for the violence last month.

"Recent events make clear that there are elements within and outside the country who wish to derail the ongoing process (toward democracy) so that they can take advantage of the chaos that would follow," Nyan Win told the U.N. General Assembly.

He said security forces acted with restraint for a month but had to "take action to restore the situation." Nyan Win made no reference to the deaths.

Opposition groups placed little hope on Gambari's visit.

"It will not be a fruitful visit unless he manages to arrange a meeting between Suu Kyi and Than Shwe," said Zinn Linn, a spokesman of the self-styled Myanmar government in exile in Bangkok. "His mission is very weak. He should do more than this."

State Department spokesman Tom Casey said the U.S. wanted to see Gambari convey a clear message that the junta must start "a serious political dialogue."

He said that included talking with Suu Kyi, who has been under house arrest for nearly 12 of the last 18 years.

The military has ruled Myanmar since 1962, and the current junta came to power in 1988 after crushing a much larger pro-democracy movement in which about 3,000 people are believed to have been killed. The generals called elections in 1990 but refused to give up power when Suu Kyi's party won.

Simmering anger against the junta exploded in mid-August after it hiked fuel prices as much as 500 percent. The anti-price hike marches soon ballooned into mass demonstrations led by Buddhist monks.

Opposition groups say several thousand people were arrested in the latest crackdown, which reached its peak on Sept. 26 and 27 when troops opened fire on unarmed demonstrators. Among the dead was a Japanese television cameraman, Kenji Nagai of APF news agency.

On Tuesday, the head of APF, Toru Yamaji, laid white chrysanthemums at the site where Nagai was gunned down in Yangon. He then kneeled at the site and prayed.

Hundreds of detained demonstrators including monks dragged out of monasteries were reported held in makeshift prisons at old factories, a race track and universities around Yangon. It was impossible to independently verify the reports in the tightly controlled nation.

In my country, there are words on the road about Myanmar, like:
"Free Aung San Suu Kyi. Return democracy in Myanmar."
"Freedom is coming to Myanmar."  

top

Write a comment